Bismillah…..

Ikhwatal Iman/ Saudara-sadaraku a’azzaniyallahu wa iyyakum, berikut ini kami informasikanbahwa Yayasan Al Imam Ibnu Katsir telah membentuk lembaga LAZIS,secara khusus menangani :

  1. Zakat (Maal & Fithri), Infaq dan Shodaqoh.
  2. Wakaf dan Hibah.
  3. Fidhyah dan Kafarat

VISI :

Menjadi sebuah pelayanan ummat yang Amanah dan profesional dalam mengelola dana umat yang merupakan sebuah kepercayaan untuk di salurkan sesuai Syar’i dan dapat dipertanggung jawabkan.

MISI :

  1. Menggerakkan kesadaran umat tentang kewajiban seorang muslim dan kepedulian terhadap sesama
  2. Menyelamatkan generasi muslim dengan memperhatikan pendidikan yatim dan dhu’afa
  3. Memahamkan masyarakat tentang manfaat sedekah dan solusi permasalahan ummat

DALAM RANGKA MENUNAIKAN PROGRAM MULIA SEBAGAI BERIKUT:

  1. Biaya OperasionL Pendidikan Graris ANAK YATIM DAN DHU’AFAA’ (MA’HAD TAHFIZHUL QUR’AN IBNU KATSIR)
  2. Menyantuni Fakir Miskin, Anak-anak Yatim dan Janda
  3. Peduli KemanusiaanBagiSaudara-Saudara Kita Yang Tertimpa Musibah.
  4. Pendidikan dan Dakwah
  5. dll

 

DONASI ANDA DAPAT DISALURKAN  MELALUI :

  1. KANTOR LAZIS IBNU KATSIR  Alamat Perum. Koperindag blok H no 2 Sumber Jaya Tambun selatan Kab. Bekasi
  2. BNI SYARIAH NO.REK. 0700 600 127 ATAS NAMA YAYASAN AL IMAM IBNU KATSIR BEKASI atau ke No. Rek. 370 865 825  a/n Zainuri Mualim QQ Ibnu Katsir.

Telp. 0813 8998 6216

  1. KAMI JEMPUT KE ALAMAT LANGSUNG

telp: 0812 8680 0178-  0877 3922 3128 – 0896 0404 4533)

Akirnya kami PengurusYayasan Al Imam Ibnu Katsir Bekasi mengucapkan Trimakasih banyak Jazakumullahu khairan atassegala partisipasinya dan hanya kepada Allah-lah sebaik-baik Pemberibalasan (kebaikan) dan kita selalu berdo’a dan berharap hannya kepada Allah, semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita serta diberikan surga-Nya, Aamiin. Barokallahufikum telah mengamanahkan harta dan rizqi Anda kepada kami.

Allahulmusta’an.

 

Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat dalam menunaikannya sesuai kemampuan.

 

KEDERMAWANAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAMDI BULAN RAMADHAN

Rasul kita shallallahu ‘alaihiwasallam, teladan terbaik bagikita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallamadalah orang yang paling dermawan.Dan beliaulebihdermawanlagi di bulanRamadhansaatbeliaubertemuJibril.Jibrilmenemuinyasetiapmalamuntukmengajarkan Al Qur’an.Dan kedermawananRasulullahshallallahu ‘alaihiwasallammelebihiangin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

SUBHAANALLOH… MUTIARA-MUTIARA BAGI ORANG YANG BERSHODAQOH

  1. Shodaqoh dapat meredakan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

« إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِيءُ غَضَبَ الرَّبِّ »

“Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi, (dapat) meredam murka Allah Ta’ala” (Shahih at-Targhib).

  1. Shodaqoh menghapuskan kesalahan dan memadamkan percikan apinya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

« وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ »

“Sedekah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api” (Shahih at-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani).

  1. Shodaqoh menjaga pelakunya terhindari dari api neraka, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

« فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ »

“Maka peliharalah (diri) kalian dari api neraka, sekalipun dengan sebiji buah kurma (yang disedekahkan).” (HR.ImamBukhoridan Muslim)

  1. penawar berbagai jenis penyakit hati, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada orang yang mengeluhkan kekerasaan hatinya kepada beliau :

« إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ »

“Jika kamu hendak melembutkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)

  1. bahwa seorang yang bersedekah di doakan oleh seorang malaikat di setiap harinya, berbeda terbalik dengan orang yang menahan hartanya. Mengenai hal tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

« مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا »

“Tiada sehari pun yang dilewati oleh para hamba-Nya melainkan turun dua orang malaikat, maka satu di antara mereka berkata : ‘Ya Allah berikanlah pengganti bagi orang yang berinfaq’, dan malaikat lainnya berkata, ‘Ya Allah berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahannya’.” (Terdapat dalam ash-Shahihain).

  1. bahwa pelaku sedekah dikaruniakan keberkahan baginya pada hartanya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai hal tersebut dengan sabdanya :

« مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ »

“Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan.” (Terdapat dalam Shahih Muslim).

  1. , bahwa tidak ada harta yang tersisa bagi pemilik harta melainkan apa yang telah dishodaqo Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala :

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٩٢﴾

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS.3:92)

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengenai kambing yang dikurbankannya, “Apakah masih ada yang tersisa?”. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjawab :

« مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلاَّ كَتِفُهَا »

“Tidak ada yang tersisa (karena telah disedekahkan) melainkan bagian pundaknya (saja).”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

« بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا »

“Tersisa semuanya melainkan bagian pundaknya (saja).” (Terdapat dalam Shahih Muslim).

  1. bahwa Allah melipatgandakan ganjaran bagi orang yang bersedekah, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla :

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١٨﴾

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS.57:18)

Dan firman-Nya Ta’ala :

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً وَاللّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٢٤٥﴾

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS.2:245)

  1. , bahwa pengamal sedekah akan dipanggil dari arah pintu khusus dari pintu-pintu surga, pintu yang disebut (dengan) pintu sedekah. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

« مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ فِي الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ يُدْعَى مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

“Barangsiapa yang menginfakkan sepasang barang di jalan Allah, di surga dia akan dipanggil, ‘Wahai hamba Allah, (pintu) ini adalah lebih baik.’ Maka barangsiapa dari kalangan pengamal shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan siapa dari kalangan praktisi jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa dari ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa dari kalangan pengamal puasa, akan dipanggil dari pintu ar-Raiyan.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Tidak adakah orang yang dipanggil dari banyak pintu-pintu penting (tersebut). Maka apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu-pintu ini?’ Beliau menjawab, “Ya ada, dan aku harap engkau termasuk dari mereka’.” (Terdapat dalam Shahih Muslim).

  1. bahwa tiadalah amalan sedekah ini ketika berkumpul dengan amalan puasa dan mengantarkan jenazah serta menjenguk orang sakit pada satu hari yang bersamaan, melainkan demikian itu menjadikan pelakunya masuk surga. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

« مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ »

“Siapa di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa ?” Abu Bakar menjawab, “Aku.” Beliau bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah mengantar jenazah?” Abu Bakar kembali menjawab, “Aku.” Beliau bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?” Abu Bakar kembali menjawab, “Aku.” Beliau bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah menjengut orang sakit hari ini?” Abu Bakar kembali menjawab, “Aku”. Maka Rasulullah bersabda, “Tidaklah semua ini berkumpul pada diri seseorang melainkan ia masuk surga.” (HR. Muslim).

  1. bahwa pada amalan sedekah terdapat di dalamnya kelapangan dada, kenyamanan dan ketenangan hati. Maka sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menberikan tamtsil :

« مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ مِنْ ثُدِيِّهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا فَأَمَّا الْمُنْفِقُ فَلاَ يُنْفِقُ إِلاَّ سَبَغَتْ أَوْ وَفَرَتْ عَلَى جِلْدِهِ حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ وَأَمَّا الْبَخِيلُ فَلاَ يُرِيدُ أَنْ يُنْفِقَ شَيْئًا إِلاَّ لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكَانَهَا فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلاَ تَتَّسِعُ »

“Perumpamaan orang bakhil dan orang yang bersedekah seperti ibarat dua orang yang mengenakan dua baju (jubatan) yang terbuat dari besi, melekat dari kedua buah dadanya hingga tulang selangka·. Adapun orang yang bersedekah, tidaklah ia bersedekah melainkan semakin lapang (bajunya) atau memenuhi bagian-bagian kulitnya, hingga menutupi jari-jarinya dan menghilangkan bekas-bekas. Sedangkan orang bakhil, maka tidaklah ia enggan menginfakkan sedikitpun (dari hartanya) melainkan setiap lingkaran semakin mengeret pada tempatnya, orang itu berusaha merenggangkannya, tetapi tidak merenggang-renggang (juga).” (Terdapat dalam Ash-Shahihain)

Pengamal sedekah setiap kali ia bersedekah maka baginya ketenangan hati dan kelapangan dada. Setiap kali ia bersedekah, makin luas dan tenang serta lapang. Makin menguat kebahagiaannya dan makin besar kesenangannya. Kalaulah pada amalan sedekah tidak ada yang diharapkan selain keuntungan ini saja, niscaya seorang hamba secara hakiki akan tetap terus memperbanyak dan menyegerakan sedekahnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.. (QS.59:9)

  1. bahwa sedekah merupakan bukti atas kesungguhan dan keimanan seorang hamba, sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

« وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ »

“Sedekah itu adalah bukti.” HR. Muslim

  1. bahwa sedekah pensuci bagi harta, melepaskannya dari sikap-sikap buruk (ad-dakhan) yang menerpanya, seperti kelalaian, sumpah dan dusta serta kealpaan. Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mewasiatkan kepada para pedagang dengan sabda :

« يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ »

“Wahai para pedagang, sesungguhnya (pada) perdagangan ini terjadi kealphaan dan sumpah, maka campurilah dengan sedekah.” HR. Ahmad, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah. Juga terdapat dalam Shahih al-Jami’.

  1. Sedekahnya orang sehat dan kuat lebih utama dari wasiat harta orang yang telah meninggal dunia atau sedekahnya orang sakit, ringkasnya sebagaimana dalam sabda beliau :

« أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ تَصَّدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ ، وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى إذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْت لِفُلاَنٍ كَذَا وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، ألاَ وَقَدْ لِفُلاَنٍ كَذَا »

“Seutama-utamanya sedekah adalah engkau bersedekah saat engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut akan kefaqiran serta sedang mengharap kekayaan. Dan janganlah menunda-nundanya hingga ruhmu telah mencapai kerongkongan, barulah engkau berwasiat, ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Ketahuilah sebenarnya harta itu telah menjadi milik si fulan (ahli warisnya,.).” (Terdapat dalam ash-Shahihain).